Kalau Masih Sering Jatuh dalam Dosa, Apakah Hijrahku Gagal?

Dalam hidup, iman tidak selalu berada di atas. Adakalanya ia menurun dan berada di bawah, namun jangan sampai iman itu hilang. Menikmati waktu sendiri bisa menjadi sebuah kebahagiaan di tengah lelahnya aktivitas yang telah dilalui sepanjang hari. Terkadang, waktu sendiri menjadi me time yang berharga: duduk santai menikmati pemandangan. Adakalanya rebahan menjadi solusi saat punggung sudah tidak sanggup lagi menahan beban.

 

Bahkan layar kecil yang kamu pegang dapat memberikan kebahagiaan tersendiri hanya dengan memandangnya. Namun, apa yang sebenarnya kamu nikmati? Sebuah rahasia kecil antara dirimu dan Rabb Yang Maha Melihat.

 

Sering kali waktu sendiri bukan digunakan untuk bermuhasabah, tetapi justru dilalui dengan maksiat secara diam-diam. Jangankan yang baru hijrah, yang sudah lama hijrah pun tidak menjamin imannya selalu berada di atas. Bahkan, orang yang sudah hijrah terkadang mulai meremehkan dosa-dosa kecil yang dilakukan dalam kesendirian.

 

Seolah manisnya awal hijrah itu mulai menghilang. Mereka yang sudah hijrah tiga tahun, empat tahun, atau bahkan lebih lama mulai merindukan masa-masa awal saat mendapatkan hidayah. Ada apa sebenarnya? Mengapa seseorang bisa merindukan masa yang telah berlalu?

 

Rasulullahصلى الله عليه وسلمbersabda:

“Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat memiliki masa futur (kendur). Barangsiapa ketika futur ia kembali kepada sunnahku (ajaranku) maka beruntunglah dia. Dan barangsiapa ketika futur ia kembali kepada selain ajaranku, maka binasalah dia.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih.)

 

Futur. Satu kata yang seolah menjelaskan semuanya. Futur adalah kondisi melemahnya semangat atau munculnya rasa malas dalam menjalankan ibadah. Rasulullahصلى الله عليه وسلمtelah menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki masa semangat dan masa futur.

 

Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menghadapi masa itu: apakah ia terjerumus dalam dosa dan maksiat secara diam-diam, atau justru kembali kepada sunnah Rasulullahصلى الله عليه وسلم.

 

Hati manusia mudah berbolak-balik dan melemah jika tidak dijaga. Terkadang seseorang tiba-tiba terjerumus dalam kesenangan yang sia-sia hanya untuk menikmati waktu sendiri.

 

Bahkan sering kali diri sendiri bertanya:

“Kalau masih sering jatuh dalam dosa, apakah hijrahku gagal?”Maha Besar Rahmat dan Kasih Sayang Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

۞ قل يا عبادي الذين َأسرفوا على َأنفسهم اَل تقنطوا من رحمة هَّللا ِإن هَّللا يغفر الذنوب جميعا ِإنه هو الغفور الرحيم

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

“ Bagaimana hati tidak luluh? Sejauh apapun aku pergi, Allah masih menerimaku kembali.”

Bukankah terkadang kita tersiksa setelah berbuat dosa? Hati menjadi gundah. Kita tahu bahwa perbuatan itu adalah dosa dan kesalahan, namun hawa nafsu tetap menyeret kita untuk melakukannya. Pada suatu waktu, kita kembali menangis, menyesal, kecewa terhadap diri sendiri, lalu berusaha bangkit. Hal itu menjadi pertanda bahwa hati kita masih hidup. Itu adalah tanda kebaikan, bukan kegagalan. Janganlah terbujuk oleh rayuan setan yang membisikkan, “Untuk apa berubah jika akhirnya jatuh lagi?”

 

Cukuplah sabda Rasulullahصلى الله عليه وسلمberikut ini sebagai pengingat agar hati terus bangkit dan kembali kepada Allah.

 

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahصلى الله عليه وسلمbersabda:

“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak  kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

 

Rasulullahصلى الله عليه وسلمbersabda, “Mereka adalah saudara-saudara kalian. Kulit mereka sama seperti kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang ketika bersendirian justru melanggar larangan Allah dan berbuat maksiat kepada-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”

Semoga Allah senantiasa menjaga kita. Teruslah bangkit setiap kali terjatuh, karena Allah akanmenerima hamba-Nya yang bertaubat. Barakallahu Fiikum✨

 

~ Zahratus Shalihah

Dzulhijjah 1147H

 

Referensi: https://bimbinganislam.com/bagaimana-sikap-penuntut-ilmu-ketika-futur/

https://quran.com/id/para-rombongan/53-54

https://rumaysho.com/11477-orang-yang-bermaksiat-kala-sepi.html

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Tinggalkan Komentar

WordPress Crafted with ♥ by faizONE.ID