Dari Luka Menuju Surga: Kisah Basit Pengidap Epidermolysis Bullosa dan Pelajaran tentang Sabar, Syukur, serta Keimanan

“Dunia bukan sebuah utopia. Tetap teguh dalam kesabaran. Insyaallah di hari pembalasan kita akan melihat buah dari hasil kerja keras kita.”

— Basit

Bagi sebagian orang, luka kecil atau jerawat di wajah mungkin cukup mengganggu rasa percaya diri. Namun ada sebagian manusia yang harus menjalani ujian yang jauh lebih berat setiap harinya. Salah satunya adalah Basit, seorang pemuda yang mengidap Epidermolysis Bullosa (EB), penyakit genetik langka yang membuat kulit penderitanya sangat rapuh hingga mudah melepuh hanya karena gesekan ringan.

Penyakit ini sering dijuluki Butterfly Baby karena kulit para penderitanya diibaratkan serapuh sayap kupu-kupu. Lepuhan dapat muncul akibat cedera ringan, paparan panas, gesekan pakaian, bahkan aktivitas sehari-hari yang bagi kebanyakan orang terasa biasa. Luka-luka tersebut sering kali menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa dan membutuhkan perawatan yang tidak sederhana.


Empat hingga Enam Jam Perawatan Setiap Hari

Bagi Basit, setiap hari adalah perjuangan. 

Ia harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk merawat luka-lukanya. Salep harus dioleskan dengan hati-hati, perban harus dipotong dan diganti, lalu setiap bagian luka dibalut kembali agar kondisinya tetap terjaga.


Apabila perawatan tersebut diabaikan, luka dapat memburuk, bernanah, dan menimbulkan infeksi. Karena banyaknya bagian tubuh yang harus dibalut, tubuh Basit sering kali tampak tertutup lapisan perban dari ujung ke ujung.


Pada hari-hari tertentu ketika ia harus mandi dan melakukan perawatan menyeluruh, proses tersebut dapat memakan waktu hingga enam jam. Pada hari biasa, setidaknya empat jam harus ia habiskan hanya untuk merawat kulitnya.


Betapa berat hari-hari yang dilaluinya. Ketika banyak orang menghabiskan waktu untuk beraktivitas, belajar, bekerja, atau berkumpul bersama teman-teman, Basit justru harus berjuang melawan rasa sakit di dalam kamarnya.


Terkadang, dari balik jendela, ia memandang orang-orang yang berjalan, berlari, dan beraktivitas dengan bebas. Pemandangan yang mungkin biasa bagi kita, tetapi menjadi sesuatu yang sangat dirindukan olehnya.


“Tanpa Keimanan, Apa Gunanya Hidupku?”

Kesabaran dan keteguhan hati Basit membuat salah seorang temannya datang berkunjung untuk mewawancarainya. Percakapan mereka direkam dan kemudian tersebar luas di media sosial.


Temannya bertanya,

“Seberapa penting keimananmu dalam kondisimu yang seperti ini?”


Basit menjawab dengan jujur,

“Aku mengira jika tanpa keimanan, terus terang, apa gunanya hidupku tanpa keimanan? Mungkin dari dulu aku sudah bunuh diri, karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Apa gunanya harus menjalani kesakitan dalam ujian, melihat orang lain menderita karena diriku, jam demi jam, hari demi hari, jikalau tanpa keimanan?”


Jawaban tersebut menunjukkan betapa besar peran iman dalam kehidupannya.


Islam memberinya tujuan. Islam mengajarkannya bahwa dunia bukanlah tempat istirahat, melainkan tempat ujian. Ia menyadari bahwa kesulitan yang dialaminya bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik di sisi Allah.


Basit berharap dapat bertemu dengan Rabb-nya dan meraih kenikmatan surga. Karena itulah ia berusaha tetap istiqamah dalam ibadah dan kesabaran meskipun ujian yang dihadapinya begitu berat.


Belajar Kesabaran dari Sang Kakak

Dua tahun sebelumnya, kakak Basit yang bernama Milad telah wafat.


Milad juga menderita penyakit Epidermolysis Bullosa. Bahkan kondisi yang dialaminya jauh lebih berat dibandingkan yang dialami Basit.


Kepergian sang kakak meninggalkan kesedihan yang mendalam. Selain kehilangan orang yang dicintai, Basit juga kehilangan seseorang yang selama ini memahami perjuangannya secara langsung.


Namun dari kakaknya, ia belajar pelajaran yang sangat berharga tentang kesabaran.

“Ketika aku mencoba merenungkan seberapa besar penderitaan dan usahanya, aku merasa bahwa Allah memilih kami berdua. Dari semua makhluk-Nya, Allah memilih kami berdua untuk ujian ini. Dan Allah memberi kami nilai lebih. Di hari pembalasan nanti, khususnya bagi Milad, semoga Allah memberikan kedudukan yang tinggi atas kesabarannya yang telah aku lihat sendiri.”


Di balik kesedihan itu, Basit melihat hikmah yang lebih besar. Ia meyakini bahwa setiap kesabaran yang dijalani dengan ikhlas tidak akan sia-sia di sisi Allah.


Doa yang Paling Berharga untuk Kedua Orang Tua

Di tengah segala keterbatasannya, Basit tidak melupakan jasa kedua orang tuanya.


Mereka tidak pernah mengeluh dalam merawatnya. Mereka berusaha membuat kehidupannya tetap terasa normal dan penuh kasih sayang.


Ketika ditanya,

“Jika kamu bisa memberi satu hal untuk keluargamu, apa yang akan kamu beri?”


Basit menjawab,

“Aku berdoa untuk kedua orang tuaku. Semoga Allah memberikan mereka Surga Firdaus Al-A’la. Jika mereka berada di dalamnya, itu sudah lebih dari apa pun. Dan semoga Allah mengumpulkan kami kembali di surga-Nya. 


Menurutku semua ini adalah ujian, dan aku bersyukur kepada Allah karena telah membuatku sadar bahwa ini adalah ujian. Kehidupan yang sejati, kehidupan yang benar-benar membuatku bisa hidup bersama keluargaku, adalah kehidupan akhirat. Aku tidak pernah melupakan itu.”


Betapa indah jawaban tersebut.

Di saat banyak orang memikirkan apa yang belum mereka miliki, Basit justru memikirkan keselamatan kedua orang tuanya dan pertemuan kembali bersama mereka di akhirat.


Pelajaran Syukur dari Kisah Basit

Kisah Basit mengingatkan kita bahwa sering kali manusia terlalu fokus pada kekurangan kecil yang dimilikinya, sementara ia melupakan lautan nikmat yang telah Allah karuniakan.


Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

(QS. Ibrahim: 34)


Kita dapat berjalan tanpa rasa sakit. Kita dapat bergerak, belajar, bekerja, dan beribadah dengan anggota tubuh yang masih berfungsi dengan baik. Namun sering kali nikmat-nikmat besar tersebut luput dari perhatian karena kita terlalu sibuk memikirkan apa yang belum kita miliki.


Padahal rasa tidak puas memiliki sifat yang tidak pernah berakhir. Seseorang akan terus melihat apa yang ada di tangan orang lain jika ia tidak belajar bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepadanya.


Karena itu, kisah Basit bukan sekadar kisah tentang penyakit. Ini adalah kisah tentang cara memandang kehidupan. Tentang bagaimana seorang hamba tetap melihat karunia Allah di tengah rasa sakit yang terus menemaninya setiap hari.


Ujian adalah Jalan Menuju Kemuliaan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)


Demikianlah keadaan orang-orang beriman.

Mereka memahami bahwa setiap ujian memiliki hikmah. Kesabaran mengangkat derajat mereka. Musibah menggugurkan dosa-dosa mereka. Dan setiap kesulitan yang dihadapi dengan ikhlas menjadi sebab datangnya pahala yang besar di sisi Allah.


Kita mungkin tidak diuji seperti Basit. Namun kisahnya mengajarkan bahwa ukuran kekuatan seseorang bukanlah seberapa ringan kehidupannya, melainkan seberapa kuat imannya ketika kehidupan menjadi berat.


Di saat sebagian manusia mengeluhkan kekurangan yang kecil, Basit harus menghabiskan empat hingga enam jam setiap hari untuk merawat luka-lukanya. Namun di tengah rasa sakit itu, ia masih berbicara tentang surga, tentang pertemuan dengan Allah, dan tentang harapan berkumpul kembali bersama keluarganya di akhirat.


Semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada Basit dan keluarganya atas kesabaran mereka. Dan semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita untuk lebih banyak bersyukur, lebih lapang dalam menghadapi ujian, serta lebih yakin bahwa setiap kesulitan yang Allah takdirkan tidak pernah lepas dari hikmah dan kasih sayang-Nya.

 

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Tinggalkan Komentar

WordPress Crafted with ♥ by faizONE.ID