Sebelum Kata “Nanti” Berubah Menjadi Penyesalan: Renungan Kematian dan Tobat Sebelum Terlambat

Berapa banyak orang yang keluar rumah pada pagi hari tanpa menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir dalam hidupnya?

 

Berapa banyak orang yang masih menunda tobat karena merasa usia mereka masih panjang?

 

Dan berapa banyak orang yang berkata, “Nanti aku akan berubah,” padahal mereka tidak pernah mengetahui apakah masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan kata “nanti”?

 

Allah ﷻ telah mengingatkan manusia dengan sebuah ayat yang begitu agung dan menggugah hati:

 

«﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ﴾

 

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

 

(QS. Ali ‘Imran: 185)»

 

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Kita hidup bukan untuk tinggal selamanya, melainkan sedang menempuh sebuah perjalanan menuju kampung akhirat.

 

Setiap hari yang berlalu bukanlah penambahan umur, melainkan pengurangan jatah kehidupan. Setiap terbit dan tenggelamnya matahari membawa kita semakin dekat kepada liang kubur yang telah ditetapkan untuk masing-masing dari kita.

 

Namun anehnya, manusia sering kali sibuk mempersiapkan kehidupan yang sementara, sementara bekal untuk kehidupan yang kekal justru terlupakan.

 

Perjalanan yang Tidak Bisa Dihindari

Kematian adalah kepastian yang akan didatangi oleh seluruh manusia tanpa terkecuali.

 

Tidak ada jabatan yang mampu menghalanginya.

 

Tidak ada kekayaan yang dapat menundanya.

 

Tidak ada kekuatan yang sanggup menolaknya.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

«لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

 

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

 

(Muttafaq ‘alaih)»

 

Seandainya manusia benar-benar merenungkan alam kubur, hari kebangkitan, hisab, timbangan amal, shirath, surga, dan neraka, tentu banyak hal dalam hidupnya akan berubah.

 

Kesibukan yang tidak bermanfaat akan berkurang.

 

Dosa yang selama ini dianggap sepele akan ditinggalkan.

 

Dan waktu yang tersisa akan digunakan untuk memperbanyak amal saleh.

 

Namun setan memiliki satu senjata yang sangat berbahaya untuk menipu manusia: menunda.

 

Bukan menyuruh seseorang menjadi kafir dalam sehari.

 

Bukan pula langsung mengajaknya melakukan dosa besar.

 

Melainkan membisikkan satu kata sederhana:

 

«“Nanti.”»

 

Nanti bertobat.

 

Nanti memperbaiki salat.

 

Nanti belajar agama.

 

Nanti berhijrah.

 

Nanti menjadi lebih baik.

 

Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan bahwa dirinya akan bertemu dengan hari esok.

 

Bahaya Menunda Tobat

Diceritakan bahwa salah seorang ulama salaf pernah bertanya kepada seseorang,

 

«“Maukah engkau mati sekarang?”»

 

Orang itu menjawab,

 

«“Tidak.”»

 

Ulama tersebut bertanya lagi,

 

«“Mengapa?”»

 

Ia menjawab,

 

«“Karena aku belum bertobat dan belum banyak berbuat kebaikan.”»

 

Kemudian dikatakan kepadanya,

 

«“Kalau begitu, beramallah sekarang.”»

 

Namun orang tersebut menjawab,

 

«“Nanti.”»

 

Demikianlah ia terus mengucapkan kata itu. Nanti dan nanti.

 

Hingga akhirnya kematian datang sebelum tobat yang selama ini ia rencanakan.

 

Betapa banyak manusia yang bernasib demikian.

 

Mereka mengetahui kesalahannya.

 

Mereka sadar bahwa dirinya harus berubah.

 

Mereka ingin bertobat.

 

Namun semuanya hanya berhenti pada keinginan.

 

Sementara kematian tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun.

 

Kisah Pemuda yang Bertobat Dua Pekan Sebelum Wafat

Ada sebuah kisah nyata yang mengandung pelajaran berharga.

 

Seorang pemuda mengalami kecelakaan yang sangat parah. Ketika seorang polisi tiba di lokasi kejadian, ia mendapati pemuda tersebut berada dalam keadaan sekarat.

 

Polisi itu berkata,

 

«“Ucapkan La ilaha illallah.”»

 

Pemuda tersebut mengangkat telunjuknya ke langit dan berkata,

 

«“La ilaha illallah…”»

 

Tidak lama kemudian, ia mengembuskan napas terakhirnya.

 

Setelah proses pemakaman selesai, polisi tersebut mendatangi rumah keluarganya dan menyampaikan kabar itu.

 

Ia berkata,

 

«“Saya membawa kabar gembira. Anak Anda mengucapkan syahadat sebelum meninggal dunia.”»

 

Orang tua pemuda itu menjawab,

 

«“Kami juga ingin memberitahukan kepada Anda bahwa sekitar dua minggu yang lalu, anak kami baru saja bertobat kepada Allah.”»

 

Subhanallah.

 

Siapa yang menyangka bahwa dua pekan setelah tobatnya, Allah memanggilnya kembali?

 

Kisah ini mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, jangan menunda kebaikan hingga waktu yang tidak pernah dijamin keberadaannya.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

«“Sesungguhnya tobat yang diterima Allah hanyalah bagi orang-orang yang melakukan keburukan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah.”

 

(QS. An-Nisa’: 17)»

 

Seandainya Penghuni Kubur Bisa Kembali

Suatu hari, Hasan Al-Bashri rahimahullah berdiri di dekat sebuah kuburan.

 

Beliau memperhatikan kuburan itu cukup lama, lalu bertanya kepada orang yang berada di sampingnya,

 

«“Menurutmu, jika penghuni kubur ini bisa keluar kembali ke dunia, apa yang akan ia lakukan?”»

 

Orang itu menjawab,

 

«“Ia akan bertobat dan memperbanyak zikir kepada Allah.”»

 

Hasan Al-Bashri berkata,

 

«“Jika ia tidak bisa kembali, maka kamulah yang harus melakukannya.”»

 

Kalimat singkat ini seakan menampar hati kita.

 

Orang yang telah meninggal berharap diberi kesempatan satu hari saja untuk kembali ke dunia.

 

Satu hari untuk bersedekah.

 

Satu hari untuk salat dengan khusyuk.

 

Satu hari untuk membaca Al-Qur’an.

 

Satu hari untuk beristighfar.

 

Namun kesempatan itu tidak akan pernah diberikan.

 

Sedangkan kita yang masih hidup justru sering menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan.

 

Ketika Anggota Tubuh Menjadi Saksi

Pada Hari Kiamat kelak, tidak ada satu amal pun yang dapat disembunyikan.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

«﴿ اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ﴾

 

“Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

 

(QS. Yasin: 65)»

 

Bayangkan hari itu.

 

Kedua tangan yang pernah digunakan untuk bermaksiat akan berbicara.

 

Kedua kaki yang pernah melangkah menuju dosa akan bersaksi.

 

Lisan yang dahulu bebas berbicara akan dibungkam.

 

Tidak ada pengacara.

 

Tidak ada pembelaan.

 

Tidak ada kesempatan kedua.

 

Yang ada hanyalah catatan amal dan keadilan Allah Yang Maha Sempurna.

 

Lalu, sudah siapkah kita untuk hari tersebut?

 

Pintu Tobat Masih Terbuka

Meskipun demikian, Islam adalah agama harapan.

 

Seberapapun banyak dosa yang telah dilakukan, selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, pintu tobat masih terbuka.

 

Allah tidak meminta hamba-Nya menjadi manusia tanpa dosa.

 

Karena memang tidak ada manusia yang demikian.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

«كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

 

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertobat.”

 

(HR. Tirmidzi)»

 

Karena itu, jangan biarkan setan menipu kita dengan kata “nanti”.

 

Jika hari ini masih bisa beristighfar, beristighfarlah.

 

Jika hari ini masih bisa memperbaiki salat, perbaikilah.

 

Jika hari ini masih bisa meninggalkan dosa, tinggalkanlah.

 

Jika hari ini masih bisa kembali kepada Allah, maka kembalilah.

 

Sebelum Terlambat

Hari ini kita masih diberi kesempatan untuk membaca tulisan ini.

 

Hari ini kita masih bisa mengangkat tangan dan memohon ampunan kepada Allah.

 

Hari ini kita masih bisa memperbaiki diri.

 

Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah kesempatan itu masih ada esok hari.

 

Jangan menunggu usia tua untuk bertobat.

 

Jangan menunggu sakit untuk kembali kepada Allah.

 

Jangan menunggu kematian datang sementara kita masih berkata, “Nanti.”

 

Karena suatu hari, kata “nanti” akan berakhir.

 

Dan pada saat itu, yang tersisa hanyalah amal yang pernah kita kerjakan serta penyesalan yang tidak lagi berguna.

 

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal-amal kita, meneguhkan hati kita di atas ketaatan, dan mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah.

 

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Referensi

Abdul Muhsin bin Abdur Rahman hafizhahullah, Fasatadzkuruna Ma Aqulu Lakum Wafawwidhu Amri Ilallah (terjemahan Indonesia: Bagaimana Bila Ajal Tiba).

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Tinggalkan Komentar

WordPress Crafted with ♥ by faizONE.ID