Jika kita membahas ilmu psikologi, kita akan mempelajari mengenai mental dan perilaku manusia. Secara sosial psikologis, perilaku yang muncul pada manusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Laki-laki dan wanita memiliki perbedaan dalam segi fisik, psikis serta peran yang dijalani. Alasan inilah yang membuat wanita cenderung mengalami diskriminasi. Mengapa bisa demikian? Perbedaan-perbedaan ini mengarah kepada penilaian bahwa wanita lemah, tidak berdaya, dan mudah menyerah. Penilaian yang melekat ini membuat berbagai pandangan ingin memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Jauh sebelum munculnya pandangan-pandangan yang memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan wanita, Islam sudah lebih dulu mengatur kesetaraan ini dengan menjamin setiap hak manusia tanpa terkecuali. Semua yang menjadi hak laki-laki juga menjadi hak wanita.

 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ : 124).


Allah juga berfirman tentang hak wanita:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah : 228).


Wanita sangat mulia di dalam agama Islam, sehingga ia harus dijaga. Inilah yang membedakan pandangan Islam dan pandangan lainnya mengenai kesetaraan laki-laki dan wanita. Islam sangat menjaga wanita dari hal-hal yang mampu merusak, menodai dan merendahkan martabat wanita. Atas dasar ini, terdapat sejumlah aturan yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’la. Aturan-aturan ini tentu memiliki maslahat di dalam kehidupan wanita. Dilihat dari tingkah laku interpersonal, wanita digambarkan sebagai individu yang cenderung menyadari perasaannya dari pada laki-laki, lebih menyukai untuk berbagi apresiasi dan ingin mempertahankan hubungan daripada mengendalikannya1. Dalam hal lainnya wanita lebih banyak berbicara dibandingkan laki-laki. Jika dilihat dari wilayah-wilayah bicara dan bahasa di otak, wanita memiliki kemampuan yang tinggi dalam menggunakan fungsi-fungsi bicara dan bahasa. Otak seorang wanita dapat menghasilkan 6.000-8.000 kata yang bisa diucapkan dalam sehari. Jika dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 2.000-4.000 kata2.


Bisa dibayangkan jika seorang wanita sulit mengendalikan apa yang disampaikannya dan kurang memperhatikan pemilihan kata, ia berpotensi menyakiti lawan bicaranya. Padahal Islam mensyariatkan kita agar bisa menjaga lisan.


Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Dilihat dari persepsi terhadap diri, terdapat faktor utama yang membuat wanita cenderung merasakan tidak bahagia adalah kekhawatiran wanita yang berlebihan terhadap penampilan. Wanita cenderung mengekspresikan kekhawatiran dan ketidakpuasan lebih banyak terhadap tubuh dan penampilan fisik secara keseluruhan. Bahkan wanita cenderung memandang penuaan sebagai hal yang negatif. Bagi wanita, memiliki penampilan yang ‘biasa-biasa saja’ berarti penampilan tersebut tidak cukup memuaskan3. Hal ini mendorong wanita untuk ingin selalu tampil sempurna dengan mengikuti trend yang ada serta tak jarang mewajarkan apa yang sudah dilarang di dalam Islam. Contohnya, berpakaian yang memperlihatkan aurat serta ketat, menggunakan riasan dan perhiasan di depan umum, serta melakukan diet ekstrim.

 

Allah Ta’ala berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur : 31).

 

Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). 
Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki.

 

Melanjutkan mengenai persepsi terhadap diri, perilaku konsumtif biasanya cenderung dilakukan oleh wanita daripada laki-laki. Laki-laki kurang berminat untuk berbelanja dibandingkan para wanita. Wanita lebih tertarik berbelanja karena dunia mode, mementingkan status sosial dari lingkungan, dan kurang tertarik pada hal-hal yang teknis dari barang yang akan dibelinya4. Tak jarang wanita membeli barang hanya karna menyukai warnanya saja, bentuknya yang lucu, barang lagi diskon bahkan hanya ingin menambah koleksi. Alasan-alasan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan serta manfaat dari barang yang dibeli. 


Terdapat dua faktor yang menyebabkan perbedaan dari perilaku konsumtif antara laki-laki dan wanita yaitu, faktor internal dan eksternal. Faktor internal dalam diri seseorang mencakup self-esteem, konsep diri, motivasi, harga diri, dan proses belajar orang yang bersangkutan. Faktor eksternal mencakup teman sebaya dan masyarakat5. Faktor internal merupakan adanya pengeluaran yang besar dari para wanita adalah faktor psikologis dan kepribadian. Dimana perasaan ini berasal dari dalam diri wanita karena wanita lebih memiliki rasa ingin terus terlihat cantik maka ia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya untuk mempercantik dirinya dan ada rasa puas ketika hal tersebut tercapai. Faktor eksternal penyebabnya dari adanya pengeluaran dan pola belanja dibentuk oleh lingkungan dimana ia dilahirkan dan dibesarkan6. Padahal Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan terlebih tidak ada manfaatnya dibalik hal tersebut.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ 
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. [al-A’râf : 31]. 


وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ 
Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-An’am : 141).

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menegaskan dalam sabdanya, yang artinya: “Makanlah, bersedekahlah, dan pakailah dalam keadaan tanpa menghamburkan uang dan kesombongan”.

 

Yang paling terlihat perbedaan antara laki-laki dan wanita adalah wanita lebih banyak menampilkan ketakutan dan kesedihan dibandingkan laki-laki yang lebih banyak menampilkan kemarahan. Wanita cenderung merasa insecure, overthinking, serta mudah mengekspresikan perasaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Hal ini mudah dikenali dari ekspresi raut muka dan pengungkapan yang sering terucap. Wanita cenderung mengharapkan dan menganggap bahwa mereka akan dirawat dan diperlakukan baik, sebaliknya juga wanita beranggapan bahwa mereka harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain, sehingga cenderung berekspresi apa adanya ketika berada dalam emosional yang tidak sesuai harapan mereka (7).


Sama halnya dengan peran yang dilakukan oleh wanita. Wanita memiliki peran dominan dalam memberikan pengasuhan. Tidak hanya kepada anak, akan tetapi kepada orangtua, suami serta anggota keluarga yang membutuhkan perhatian lebih (sakit). Wanita juga dapat melakukan banyak peran dalam satu waktu seperti ketika mengasuh anak disambi mengerjakan pekerjaan domestik rumah. Banyaknya peran yang dilakukan dalam satu waktu, akan mudah membuat wanita merasakan letih secara fisik dan psikis terhadap peran yang dilakukan. Jika wanita kurang memiliki daya untuk melakukan pengelolaan emosi, hal yang akan terjadi adalah emosi yang tunjukkan akan meledak keluar, adanya kecenderungan untuk menyakiti diri, sedih serta menangis berlarut-larut. Terdapat mekanisme yang tidak disadari yang ikut berperan dalam proses regulasi emosi, khususnya berkaitan dengan penekanan ekspresi emosi dan bagaimana selama ini individu melakukan pengelolaan ekspresi emosi (8).


Jika membahas emosi, Al-Qur’an sudah banyak sekali menjelaskan bagaimana kiat-kiat agar kita dapat meredakan emosi agar menjadi tenang serta tentram. Dalil-dalil tersebut mengarah kepada agar kita mengingat Allah dengan beribadah kepada-Nya. Mengapa demikian?


Allah berfirman,
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Dan sesungguhnya hanya Dia, Allah, yang dapat membuat seseorang tertawa dan menangis” (QS. An Najm : 43).


Sehingga dalam kondisi emosi yang tidak stabil, utamakanlah meminta pertolongan kepada Allah. Banyak dari wanita yang cenderung mencari pertolongan pertama kepada makhluk dikarenakan mereka menyukai untuk berbicara sehingga mampu menceritakan segalanya. Meskipun meminta pertolongan kepada makhluk diperbolehkan, akan tetapi jadikan Allah sebagai penolong pertama dan utama bagi kita.


Allah Ta’ala berfirman,
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45).


Allah Ta’ala juga berfirman,
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d : 28).


Semoga Allah memudahkan kita para wanita untuk terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika dilihat sekarang ini banyak sekali perilaku dan sifat wanita yang tidak mencerminkan kemuliaan serta sudah hilangnya rasa malu. Semoga Allah senantiasa menjaga kita para wanita dari hal-hal yang sudah Allah larang. Barakallahu fiik.

 

Referensi:

Baron, R.A dan Byrne, D. Psikologi Sosial Jilid 1. Edisi 10. Alih Bahasa: Ratna Juwita, dkk. Jakarta: Erlangga.

Pease, Allan dan Barbara. Why Men Lie and Women Cry. Psikologi Dewasa. (Jakarta: Gramedia, 2013).

Baron, R.A dan Byrne, D. Psikologi Sosial Jilid 1. Edisi 10. Alih Bahasa: Ratna Juwita, dkk. Jakarta: Erlangga.

Suyasa, P & Fransisca. 2005. Perbandingan Perilaku Konsumtif Berdasarkan Metode Pembayaran. Phronesis, Vol.7, No.2, 172-198.

Sumartono. 2002. Terperangkap dalam Iklan (Meneropong Imbas Pesan Iklan Televisi). Bandung: Alfabeta.

Sukendri, Nengah. 2017. Perilaku Belanja antara Mahasiswa dan Mahasiswi di STAH Negeri Pudja Mataram. Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis Vol. 5, No. 1-Maret Tahun 2017. 

Crawford, J., Kippax, S., Onyx, J., Gault, U., & Benton, P. (1992). Emotion and Gender: Constructing Meaning from Memory. London: Sage Publications.

Gross, J.J. 2007. Emotion regulation: Past, present, future. Cognitionand Emotion, 13, 551–573. 

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Tinggalkan Komentar