Dalam jarak dan masa, ada do’a yang menyertai
Khusyu’ dalam munajat dan pengharapan
Seperti bumi kita yang bulat
Sekeras apapun kita menjauh
Semoga akan kembali ke titik yang sama, bersama…

 

         Kabar bahagia silih berganti. Kembali kau dapati secarik undangan pernikahan, lagi. Rasa bahagia pun menyelimuti, sebab akhirnya teman-temanmu sudah berlabuh pada jodohnya. Tak dapat dipungkiri hatimu terpaksa meresapi banyak tanya.

 

            “Aku bagaimana? Aku kapan?”

Lalu seolah-olah ada jawaban dalam topeng seperti biasa,

            “Semua akan indah pada waktunya,”

Memberi tenang sejenak, namun resah tak dapat berbohong dan bersembunyi lagi. Belum lagi mendengar tanya atau celotehan diluar sana.

         

         Tak apa, teruslah berjalan, menikmati setiap proses dan memperbaiki diri. Ocehan dan omongan dari setiap simpang tak perlu dijadikan acuan, karena tak semua bisa jadi penguat, sebagiannya malah menjadi pematah asa. Sebab yang benar-benar  tau bagaimana proses yang tlah dilalui hanyalah diri sendiri. Bukankah dalam penantian ini ada impian yang ingin dijadikan nyata?

         

          Karena penantian lama bukan sekedar tentang tingginya standar pilihan. Tapi menanti, mencari dan menemukan sosok yang bisa mewujudkan impian itu. Bukan hanya berbahagia di dunia, namun kelak sampai akhirat, biidznillah. 

 

         Menyibukkan diri dengan hal bermanfaat adalah cara terbaik dalam masa penantian. Dari pada sibuk berbicara tentang siapa jodoh kita kelak, masih ada banyak ketaatan pada Rabb yang masih jauh dari sempurna namun belum jua terlaksanakan.

 

          Dari pada sibuk kepo dengan beranda medsos si doi atau memasang status galau, masih banyak biografi-biografi Salafushalih yang belum kita ketahui. Yang jika kita pelajari, akan membuat malu sendiri saat tau bagaimana kesungguhan dan kecintaan mereka pada ilmu. 

 

Ibnu Qayyim al Jauziyyah berkata:

Kerinduan para penuntut ilmu terhadap ilmu itu lebih besar daripada kerinduan seseorang terhadap kekasihnya. Kebanyakan mereka tidak terpesona dengan keelokan fisik manusia.

(Raudhahal Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin’ hal. 69)

Udah agak malu? Coba simak lagi nukilan Ibnu Rajab al-Hanbali tentang Ibnu ‘Aqil berkenaan dengan dirinya, “Aku berusaha membatasi seminimal mungkin waktu makanku. Sampai-sampai aku lebih menyukai makan roti kering yang dicelupkan ke dalam air agar mudah dicerna dan dikunyah daripada harus memakan roti biasa. Hal itu ku lakukan agar waktu membacaku lebih banyak sehingga bisa menulis ilmu yang belum kuketahui.”

 

         Meluruskan niat juga sangat penting, sebab bukan sedikit yang cepat-cepat melepas masa lajang hanya karna takut tak laku, atau sudah lelah hidup sendiri. Coba tanya hati sendiri. Apa tujuan menikah? Untuk sekedar menaikkan derajat sosialkah atau melengkapi separuh agama?

 

         Kalau hati kecilmu masih ragu menjawabnya, segera geser fokusmu. Pelan-pelan memperbaiki diri, mengokohkan dan meluruskan niat. Yang perlu dipahami bahwa belum menikah tidak menjadikanmu rendah dan hina. Begitupula dengan menikah belum tentu menjadikanmu mulia. Sebagaimana Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyyah -Rahimahumallah yang Allah takdirkan melajang hingga akhir hayat. Status lajangnya tak menghalangi kemulian mereka di sisi Allah.

 

         Sebab menikah adalah ibadah yang paling lama. Rugi rasanya jika dilandasi oleh niat yang masih rapuh dan kropos dan jauh dari ketaqwaan. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.

(QS. Al Maidah: 27).

         Teringat akan perkataan, “Benar, menikah itu sunnahnya disegerakan sebagaimana berbuka puasa. Tapi bukankah maghrib tak pernah serentak?” *senyum. 

 

Semoga teman-teman yang masih memantaskan diri dalam penantian segera diberikan jawaban dan dilabuhkan pada sosok yang tepat. Aamiin.

 

Aku mencarimu dalam hamparan sajak, lamunan, dan air mata
Namun engkau semakin jauh
Dalam resah yang terombang-ambing
Aku mendekat padaNya
Dzat yang Maha Penyayang
Memelukku dalam setiap lantuan kalamNya
Disaat cintaku padaNya semakin besar
Disitulah aku menemukanmu, berlirih:
“Maukah kutemani berjalan menggapai RidhoNya?”

 

Aulia Dwi Safitri

Prabumulih, 13 November 2021

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

6 komentar untuk “MENEMUKANMU”

Tinggalkan Komentar