Meraih Kepercayaan Suami

Siapa shalihat yang merasakan tidak dipercaya oleh suami masalah keuangan? Rasanya BeTe dan ngeselin ya ketika uang bulanan di jatah, kalau perlu apa- apa untuk kebutuhan sehari- hari harus minta dulu baru dipenuhi, suami tidak terbuka mengenai keuangan dan banyak lagi keadaan- keadaan yang tidak mengenakkan terjadi mengenai masalah keuangan di dalam rumah tangga. Bagaimana cara kita sebagai istri supaya bisa mendapatkan kepercayaan suami untuk mengatur keuangan rumah tangga? Yuk sini kita bahas sama- sama.

 

Memberi Nafkah adalah kewajiban suami

 

Para istri tentu sudah mengetahui bahwa sebagai istri dirinya mempunyai hak untuk dipenuhi segala kebutuhannya oleh suami. Namun, para istri juga harus memahami, tidak menjadi sebuah kesalahan ketika suami mengatur keuangannya tanpa melibatkan istrinya. Asalkan kewajibannya dalam menafkahi itu sudah ditunaikannya, maka itu sudah mencukupi dan tidak menjadi dosa bagi suami.

 

Dalil Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا

 

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Tholaq: 7).

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata,

“Yang tepat dan lebih benar sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama (baca: jumhur) bahwa nafkah suami pada istri kembali pada kebiasaan masyarakat (kembali pada ‘urf) dan tidak ada besaran tertentu yang ditetapkan oleh syari’at. Nafkah itu berbeda sesuai dengan perbedaan tempat, zaman, keadaan suami istri dan adat yang ada.” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 83)

Jika Suami Tak Memberi Nafkah

 

Ada pula dari suami yang sesungguhnya mampu untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak- anaknya, akan tetapi menolak dan tidak peduli akan kewajibannya. Jika suami tidak memberikan nafkah wajibnya, inilah solusi yang Rasulullah shalallahu alaihi wa salam ajarkan:

 

Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti ‘Utbah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anak-anakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

 

“Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364)

Tips supaya bisa dipercaya suami mengatur keuangan

 

1. Ketahui apa alasan suami

 

Alasan sebagian besar para suami memilih mengelola keuangan rumah tangganya sendiri tanpa mempercayakan kepada istrinya antara lain karena belum menaruh kepercayaan kepada istrinya. Hal ini bisa dikarenakan sang suami belajar dari pengalaman orang disekitarnya, baik itu dari rekan dan teman atau kerabatnya yang pernah memiliki pengalaman kurang baik ketika mempercayakan keuangan ke istri, khawatir tidak diberi keleluasaan untuk mempergunakan uangnya sendiri oleh istrinya. Atau bisa juga karena suami ingin merasa selalu dibutuhkan oleh sang istri dengan istri meminta kepadanya setiap ada keperluan yang membutuhkan pendanaan, dan lain alasan- alasan lainnya. Sebagai istri, kita butuh untuk mengetahui apa alasan dibalik tidak ada keterbukaan suami akan keuangannya sehingga memilih untuk mengelola keuangannya sendiri tanpa bantuan sang istri. Dengan demikian, itu akan lebih mudah bagi kita sebagai istri meluluhkan hati suami.

 

2. Memperbanyak rasa syukur terhadap pemberian suami

 

Allah Ta’ala berfirman,

‎وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7).

Salah satu yang membuat hati seorang suami senang adalah ketika pemberiannya dihargai dan disyukuri oleh istrinya. Karena, jika ingin meraih kepercayaan suami cobalah untuk selalu mensyukuri pemberian suami walau itu secara angka tidaklah seberapa nilainya.

 

Sanjung setiap jerih payahnya dan kesediaannya untuk melaksanakan kewajibannya untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak, sementara di luar sana banyak para suami yang lepas tangan bahkan membiarakn istrilah sebagai tulang punggung keluarga. Sakit hati suami atas pemberiannya yang dianggap tidak ada arti bagi istri malah semakin membuat suami menggenggam rapat tangannya, dan semakin selektif dalam memberikan uang bagi kebutuhan istrinya.

 

Ringanlah dalam memberikan pujian terhadap suami. Besar-besarkan setiap pemberiannya sebagaimana jika kita diberikan pemberian yang banyak olehnya. Ini akan memanggil rasa ingin memberi lagi dan lebih banyak lagi di hati suami untuk istrinya. Ketika suami merasa dihargai oleh istrinya, dimuliakan oleh istrinya, cinta suami kepada istri perlahan akan semakin tumbuh dan berkembang serta semakin dalam. Jika sudah demikian, suami insya Allah akan bersedia memberikan apapun yang diinginkan istrinya, termasuk memberikan kepercayaan dalam mengelola keuangan rumah tangga.

 

Selalu menyebut- nyebut pemberian suami adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah azza wa jalla dan wujud rasa terimakasih kita terhadap suami. Begitu pula terhadap nikmat yang terlihat kecil dan sepele, syukurilah. Jika nikmat kecil saja tidak bisa disyukuri, bagaimana lagi dengan nikmat yang besar. Dalam hadits disebutkan,

‎مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

 

“Barang siapa yang tidak mensyukuri sesuatu yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4:278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667, 2:272)

 

3. Selalu berikan dukungan kepada suami dalam hal santunan terhadap keluarganya

 

Ketika mendapati suami lebih cenderung peduli kepada keluarganya khususnya ibunya, kebanyakan istri akan protes dan merasa cemburu, apalagi jika uang yang diberikan suami untuk kebutuhan sehari- hari tidak lebih besar dari yang dikeluarkan suami untuk keluarganya. Kalimat- kalimat protes yang pedas dan bernada ketus seringkali terlontar begitu saja mengiringi rasa kesal dan sakit hati istri terhadap suami.

 

Shalihat fillah, jika keadaanmu engkau rasakan sulit dengan sikap suamimu yang demikian, jangan buru- buru protes dan mencela suami. Karena hal itu hanya akan membuatmu semakin kehilangan kepedulian suami disebabkan suami merasa direndahkan oleh istrinya dalam memberikan nafkah bagi istri dan anak- anaknya.

 

Sebaliknya, cobalah untuk mendukung suami dan memuji suami ketika ia berupaya untuk berbakti kepada ibunya atau memberikan santunan untuk para kerabatnya. Doakan kebaikan suami dengan lisan kita atas kebaikan yang ia lakukan untuk keluarganya tersebut di depan suami. Langkah ini sangat mempengaruhi hati suami dan membuat suami merasa sebagai sosok yang dimuliakan istrinya. Sehingga suami insya Allah akan terbuka hatinya untuk lebih percaya kepada suami, karena dia menganggap istrinya ada di pihaknya. Insya Allah, suami akan melihat bahwa istrinya layak untuk mengelola keuangan dimana kelak tidak akan masalah tatkala suami mengagendakan sebagian uangnya dikeluarkan untuk kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya, selain juga untuk kebutuhan rumah tangganya.

 

4. Berlaku adil dan imbang dalam mengatur keuangan

 

Seringkali para istri ketika diberikan kuasa oleh suaminya untuk mengatur keuangan rumah tangga, istri lebih cenderung memikirkan untuk memenuhi kebutuhan yang ia anggap penting versi dirinya tanpa membicarakan dengan suaminya. Maka sangat dibutuhkan diskusi dengan suami perihal pengeluaran apa saja yang dibutuhkan. Hal ini sebagai usaha yang kita lakukan untuk memaparkan kepada suami mengenai apa saja kebutuhan dan pengeluaran yang harus disiapkan selama kurun waktu tertentu ( bisa per pekan, atau per bulan).

 

Dengan jalur diskusi dengan suami, harapannya semua pihak baik itu istri, anak- anak dan suami itu sendiri terpenuhi kebutuhannya. Selain itu juga supaya suami tetap merasa memiliki kekuasaan atas uang yang ia percayakan pengelolaannya kepada istrinya tersebut. Sehingga dengan diskusi yang dilakukan antara suami dan istri, bisa didapatkan porsi pengeluaran yang adil dan imbang, tanpa suami merasa kebutuhannya tertinggal dari perhatian sang istri.

 

5. Buatlah laporan keuangan secara detail

 

Laki- laki adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan kemampuan logika yang lebih dibandingkan wanita, yang dominan perasaan. Maka, jangan minta suami untuk memahami kemana larinya uang yang ia amanahkan tanpa adanya catatan lengkap akan pengeluaran yang telah dilakukan selama kurun waktu tertentu. Jangan merasa sakit hati para istri ketika suami bilang,” Uang yang aku berikan koq sudah habis? Dikeluarkan untuk apa aja?” Padahal sebelumnya sudah ada diskusi dengan suami mengenai pengeluaran selama 1 bulan itu. Semua ini karena laki- laki butuh data yang konkrit untuk memahami sesuatu. Ketika hal ini dialami oleh seorang istri, tidak perlu baper dan menganggap suami tidak paham dengan kebutuhan yang ada, cukup sodorkan catatan pengeluaran berupa laporan keuangan yang telah dibuat beserta struk dan tanda terima bukti pengeluaran uang, bahkan untuk bukti pembayaran parkir yang nilainya tidak seberapa. Ingat, dirimu sedang mengupayakan meraih kepercayaan penuh sang suami tercinta.

 

Dengan bukti laporan keuangan yang kita buat, kita tidak perlu banyak berkata- kata untuk menjelaskan yang terkadang malah memancing perdebatan dan pertengkaran. Cukup sertakan senyuman manis di bibir ketika menyerahkannya kepada suami dan biarkan laporan itu yang memberikan kejelasan kepadanya.

 

Jika sudah masuk ke dalam persepsi suami bahwa istrinya telah dianggapnya mampu dan kompeten serta cakap dalam mengatur keuangan, suami akan menyerahkan seluruh yang ia miliki untuk dikelola dengan baik oleh istrinya. Suami merasa seperti memiliki seorang akuntan pribadi yang memudahkan dan meringankan pikirannya demi mengatur keuangannya dan pengeluarannya.

 

6. Memohon kepada Allah

 

Allah satu- satunya Dzat yang menggenggam hati manusia, termasuk hati sang suami. Minta dan mohonkanlah kepada Allah untuk melembutkan hati suami dan menanamkan rasa percaya di hati suami terhadap istrinya. Untuk mengelola keuangan sang suami. Dan mohonlah pula kepada Allah untuk diri kita sebagai istri mampu amanah dalam mengelola keuangan suami. Jangan sampai godaan syaithan membuat kepercayaan suami malah menjadi boomerang yang menghantarkan istri kepada adzab Allah. Naudzubillah.

 

7. Berprasangka baik terhadap ketetapan Allah

 

Setelah beriktiar dan berdoa, maka berserahlah kepada keputusan terbaik dari Allah. Jika belum kunjung didapatkan apa yang kita harapkan, teruslah berprasangka baik kepada Allah. Semua yang Allah tetapkan dengan dianugerahkan seorang suami yang demikian insya Allah pasti yang terbaik untuk diri kita, dan pasti ada keburukan yang sedang Allah singkirkan dari hidup kita, insya Allah di dunia dan di akhirat.

 

Semoga Allah selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya untuk kita semua, aamiin.

 

Semoga bermanfaat.

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Tinggalkan Komentar

WordPress Crafted with ♥ by faizONE.ID