[Bagian 2]

3. Berdiam di rumah

Di zaman sekarang, wanita yang banyak berdiam di rumah dianggap cupu dan kurang pergaulan. Wanita dianggap mengikuti tren bersama temaan- temannya nge- mall, nongkrong dikafe- kafe atau ikut arisan sana sini bersama teman- teman sosialitanya. Padahal sesungguhnya, Allah mejaga dan memuliakan wanita- wanita yang senantiasa bersedia berdiam di dalam rumahnya.

 

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu”

Yang dimaksud dengan ayat ini adalah hendaklah wanita berdiam di rumahnya dan tidak keluar kecuali jika ada kebutuhan. Dan di antara kebutuhan adalah mengerjakan shalat.

 

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam

خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا لاَتَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَى اللهِ مِنْهَا فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allâh (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya.”

4. Dilarang ikhtilat

Menjaga pergaulan sangat Allah tekankan dalam syariat. Wanita tidak boleh membaur dengan laki- laki yang bukan mahramnya, begitu juga sebaliknya. Apalagi sampai berdua- duaan, hal ini haram hukumnya bagi mereka yang bukan mahram.

 

Lihatlah bagaimana adab ketika para sahabat Nabi ingin menemui istri Nabi (ummahatul mukminin). Disebutkan dalam ayat,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”

Bahkan sampai ada keperluan pun tetap diperintahkan berbicara di balik tabir. Tujuannya tentu biar tidak banyak interaksi langsung antara laki-laki dan perempuan. Karena jelas sangat besar godaannya jika itu terjadi apalagi sampai berdua-duaan. Lihatlah sampai Allah sebut, itu lebih menyelamatkan hati keduanya.

 

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat tersebut,

وكما نهيتكم عن الدخول عليهن كذلك لا تنظروا إليهن بالكلية ولو كان لأحدكم حاجة يريد تناولها منهن فلا ينظر إليهن ولا يسألهن حاجة إلا من وراء حجاب

“Sebagaimana dilarang bagi kalian masuk menemui istri nabi, begitu pula dilarang sekali melihat mereka. Walaupun ketika itu ada hajat penting untuk menemui mereka, tetap tidak boleh memandang mereka. Kalau ingin meminta sesuatu tetap diperintahkan dari belakang tabir.”

Lihatlah pula beberapa tujuan dari cara shalat misalnya akan terlihat bahwa ajaran Islam tidak menginginkan campur baur laki-laki dan perempuan.

 

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika salam dari shalat, para jama’ah wanita kala itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau barang sebentar sebelum beranjak. Kami melihat –wallahu a’lam– hal itu dilakukan supaya wanita bubar lebih dahulu sebelum berpapasan dengan para pria.”

Sungguh betapa syariat ini Allah ingin mencegah pertemuan antara pria dan wanita. Karena memang campur itu tidak boleh kecuali jika sulit dihindari.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki (dalam shalat berjamaah, pen.) adalah yang paling depan dan yang paling jelek adalah shaf yang paling belakang. Sebaliknya, shaf perempuan yang paling baik adalah yang paling belakang dan yang paling jelek adalah yang paling depan.”

Kalau dikatakan bahwa yang paling baik bagi laki-laki adalah yang paling depan sedangkan perempuan adalah yang paling belakang, menunjukkan bahwa memang antara laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur. Semakin dekat antara keduanya akan menimbulkan godaan yang semakin besar.

5. Menjaga marwahnya serta kesucian hati dan dirinya

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“… Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)…”

Wanita shalihah sebagai perhiasan terbaik dunia yang mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat adalaah dia yang senantiasa menjaga kesucian dirinya termasuk juga kesucian hatinya dari mencintai laki- laki yang tidak ada hak untuk dicintai. Wanita tidaak mengikuti pergaulan yang membolehkan pacaran dan berdua- duaan dengan laki- laki yang bukan mahramnya. Tidak bermudah- mudah dalam berinteraaksi dengan lawan jenis yang bisa menumbuhkan bibit- bibit rasa cintaa yang tidak seharusnya ada.

 

Kemuliaan wanita ada pada tekad kuat dan sungguh- sungguhnya dalam menjaga dirinya bukan hanya bagi wanita yang masih lajang, akan tetapi juga yang sudah bersuami. Tidak kemudian merasa aman dan bebas kemanapun dengan siapapun tatkala suaminya sedang tidak bersamanya. Akan tetapi senantiasa merasa diawasi oleh Allah sehingga sungguh- sungguh dalam memelihara dirinya dan harta suaminya ketika jauh dari sang suami.

Penulis : Ummi Santy Andriani Hafidzahallah

[BAGIAN 1]    [BAGIAN 2]

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Tinggalkan Komentar