Bolehkah Wanita Berkeluh Kesah?

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Sesungguhnya dunia ini tidak pernah lepas dari musibah, kesedihan, dan berbagai bencana. Di dalamnya, orang yang sehat pasti akan mengalami sakit, yang tua akan mengalami kepikunan, dan setiap yang ada pasti akan binasa. Allah ta’ala telah menetapkan seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

 

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

 

“Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.’ Beliau bersabda lagi, ‘Dan Arsy-Nya berada di atas air.” HR. Muslim no. 2653.

 

Lalu mengapa harus berkeluh kesah dan marah terhadap takdir? Padahal Allah-lah yang mengatur dan mengendalikan seluruh urusan dan keadaan. Memang, kesulitan hidup dan kehilangan orang-orang yang dicintai merupakan musibah yang menyakitkan, peristiwa yang mengguncangkan, dan bencana yang dahsyat. Semua itu dapat menyalakan api kesedihan di dalam dada serta rasa pedih yang seakan tidak kunjung padam.

 

Seandainya orang yang tertimpa musibah merenungkan bahwa musibah tersebut tidak menimpa agamanya (karena musibah yang sebenarnya adalah musibah yang merusak agama) dan bahwa musibah itu tidak lebih besar daripada yang telah terjadi, serta menyadari bahwa setelah bersabar dan mengharap pahala dari Allah terdapat ganjaran yang dapat mengangkatnya ke suatu kedudukan di surga yang mungkin tidak dapat ia capai hanya dengan amalnya, niscaya ia akan ridha, jiwanya menjadi tenang, dan ia akan memuji Allah atas segala ketetapan dan takdir-Nya.

 

Namun, semua itu tidak akan dapat dipahami dengan benar kecuali oleh orang yang mengenal hakikat iman kepada takdir. Semakin kuat keyakinan seorang hamba terhadap ketetapan Allah ﷻ, semakin lapang dadanya dalam menghadapi setiap ujian dan semakin mudah baginya untuk ridha kepada keputusan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita memahami mengapa beriman kepada takdir merupakan kewajiban setiap muslim, serta buah yang agung yang akan diraih oleh orang yang mengimaninya.

 

Mengapa Harus Beriman kepada Takdir?

 

Beriman kepada takdir merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan oleh setiap muslim. Hal ini karena iman kepada takdir adalah salah satu dari enam rukun iman yang menjadi dasar tegaknya keimanan seseorang. Keimanan seorang hamba belum sempurna hingga ia meyakini bahwa segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi, semuanya berlangsung dengan ilmu Allah, telah ditulis di Lauhul Mahfudz, terjadi dengan kehendak-Nya, dan diciptakan oleh-Nya. Keyakinan ini bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan dalam akal, tetapi harus melahirkan ketundukan hati, keridhaan terhadap ketetapan Allah, serta kesabaran dalam menghadapi setiap ujian.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

 

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)

 

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa iman kepada takdir merupakan bagian dari rukun iman. Ketika Malaikat Jibril bertanya tentang iman, beliau menjawab:

 

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ

 

“(Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim no. 8)

 

Oleh karena itu, beriman kepada takdir bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang mengimaninya dengan benar akan memperoleh ketenangan hati, sedangkan orang yang mengingkarinya atau meragukannya telah menyelisihi pokok-pokok keimanan yang diajarkan dalam Islam.

 

Buah Beriman kepada Takdir

 

Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan yang besar bagi hamba-Nya. Demikian pula dengan iman kepada takdir. Ia bukan hanya menjadi penyempurna keimanan, tetapi juga menjadi cahaya yang menerangi hati ketika ujian datang dan menjadi penopang jiwa ketika musibah terasa begitu berat.

 

Orang yang benar-benar beriman kepada takdir akan menyadari bahwa apa yang ditetapkan Allah pasti mengandung hikmah, meskipun hikmah tersebut belum tampak di hadapannya. Ia yakin bahwa Rabb yang menakdirkan segala sesuatu adalah Rabb Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Oleh sebab itu, hatinya tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah, tetapi justru semakin yakin bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.

 

Keimanan kepada takdir juga melahirkan ketenangan hati. Ketika musibah menimpa, ia bersabar dan mengharap pahala. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur dan tidak sombong. Ia tidak terus-menerus larut dalam penyesalan atas apa yang telah berlalu, karena ia mengetahui bahwa apa yang luput darinya tidak mungkin akan mengenainya, dan apa yang telah ditetapkan untuknya tidak mungkin akan terlewatkan.

 

Inilah buah yang hanya dapat dirasakan oleh hati yang dipenuhi keimanan kepada takdir. Semakin kuat keyakinan seorang hamba kepada ketetapan Allah, semakin besar pula ketenangan, kesabaran, keridhaan, dan tawakal yang akan menghiasi kehidupannya.

 

1. Beriman Kepada Takdir Melahirkan Ketenangan Hati

 

Bukankah setiap orang mendambakan hati yang tenang? Betapa banyak manusia yang memiliki harta, kedudukan, dan keluarga, namun hidupnya dipenuhi kegelisahan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup dalam kesederhanaan, bahkan diuji dengan berbagai musibah, tetapi hatinya tetap tenteram. Perbedaan itu terletak pada apa yang bersemayam di dalam hati mereka. Hati yang dipenuhi keimanan kepada takdir akan lebih mudah menerima setiap ketetapan Allah, karena ia yakin bahwa Rabb yang mengatur hidupnya tidak pernah menzalimi hamba-Nya dan tidak pernah menetapkan sesuatu tanpa hikmah.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

 

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11)

 

Seorang tabi’in yang mulia, menjelaskan makna ayat ini:

 

هو الرجل تصيبه المصيبة فيعلم أنها من عند هللا فيرضى ويسلم

 

“Ia adalah seseorang yang tertimpa musibah, lalu ia mengetahui bahwa musibah itu berasal dari Allah. Maka ia pun ridha dan berserah diri kepada-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Jāmi’ al-Bayān dan dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.)

 

Perhatikanlah, Allah tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan terbebas dari musibah. Akan tetapi, Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu hidayah bagi hati. Hati itulah yang akan tetap teguh ketika musibah datang, tidak hanyut dalam keputusasaan, tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah, dan tidak mempertanyakan hikmah di balik ketetapan-Nya.

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

 

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

 

Hadits ini menunjukkan bahwa keimanan kepada takdir mengubah cara pandang seorang mukmin terhadap kehidupan. Ia tidak menilai kebahagiaan hanya dari banyaknya nikmat, dan tidak menganggap musibah sebagai akhir dari segalanya. Selama ia tetap berada di atas keimanan, setiap ketetapan Allah akan menjadi jalan menuju kebaikan baginya.

 

Inilah ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan harta, tidak dapat diraih dengan kedudukan, dan tidak dapat diberikan oleh manusia. Ketenangan itu merupakan karunia Allah kepada hamba yang mengenal Rabbnya, beriman kepada takdir-Nya, serta ridha terhadap segala keputusan-Nya.

Leave a Reply

Artikel terkait