2. Beriman kepada Takdir Menumbuhkan Kesabaran dalam Menghadapi Musibah
Tidak ada seorang pun yang mampu menghindari musibah. Cepat atau lambat, setiap manusia akan merasakan sakit, kehilangan, kegagalan, atau berbagai ujian lainnya. Yang membedakan seorang mukmin dengan selainnya bukanlah sedikit atau banyaknya musibah yang menimpa, tetapi bagaimana ia menyikapi musibah tersebut.
Orang yang beriman kepada takdir memahami bahwa setiap ujian datang dari Allah ﷻ. Ia mengetahui bahwa tidak ada musibah yang menimpanya secara kebetulan, tidak pula karena Allah membencinya. Bahkan, bisa jadi musibah itu menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa, diangkatnya derajat, atau dijaganya dirinya dari keburukan yang tidak ia ketahui. Karena itulah, ia memilih bersabar dan berharap pahala dari Rabbnya.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ الَّذِيۡنَ اِذَآ اَصَابَتۡهُمۡ مُّصِيۡبَةٌ ۙ قَالُوۡٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـآ اِلَيۡهِ رٰجِعُوۡنَؕ أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155–157)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ujian merupakan sunnatullah yang pasti dialami oleh setiap hamba. Allah tidak menjanjikan kehidupan tanpa musibah, tetapi Allah menjanjikan rahmat, keberkahan, dan petunjuk bagi orang-orang yang bersabar. Kesabaran itu lahir dari keyakinan bahwa semua yang menimpa dirinya telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, ataupun duka cita, bahkan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, dinilai hasan)
Oleh karena itu, musibah yang menimpa sebagian orang yang beriman artinya Allah sedang membersihkan dosa-dosa, meninggikan derajat, dan mempersiapkan kedudukan di surga yang tidak akan dia capai hanya dengan banyaknya amal. Maka bersabarlah, karena di balik setiap ketetapan Allah terdapat hikmah yang mungkin belum engkau lihat hari ini, tetapi kelak akan engkau syukuri.
3. Beriman kepada Takdir Menghilangkan Penyesalan dan Membuka Pintu Tawakal
Betapa banyak manusia yang hidup dalam penyesalan. Mereka terus mengulang-ulang peristiwa yang telah berlalu seraya berkata, “Seandainya dahulu aku melakukan ini,” atau, “Seandainya aku tidak mengambil keputusan itu.” Padahal, ucapan semacam itu tidak akan mengubah kenyataan sedikit pun. Ia hanya memperbarui kesedihan, melemahkan hati, dan membuka pintu bisikan setan.
Orang yang beriman kepada takdir memahami bahwa apa yang telah Allah tetapkan pasti terjadi, sedangkan apa yang tidak Allah tetapkan tidak akan pernah terjadi. Karena itu, ia tidak larut dalam penyesalan. Ia menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai penjara yang terus menyiksa pikirannya. Setelah berusaha semampunya, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah dan ridha terhadap keputusan-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَا ۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.'”(QS. At-Taubah: 51)
Ayat yang mulia ini mengajarkan bahwa seorang mukmin menggantungkan hatinya kepada Allah semata. Ia menyadari bahwa seluruh urusannya berada dalam kekuasaan Rabbnya. Oleh sebab itu, ia tidak takut secara berlebihan terhadap masa depan dan tidak pula tenggelam dalam kesedihan terhadap masa lalu.
Rasulullah ﷺ juga memberikan bimbingan yang sangat agung dalam menghadapi takdir. Beliau bersabda:
احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika suatu musibah menimpamu, janganlah engkau berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu hasilnya akan begini dan begitu. ‘Akan tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan .’Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ membuka pintu setan.”(HR. Muslim no. 2664)
Hadits ini mengajarkan keseimbangan yang indah dalam Islam. Seorang muslim diperintahkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, memanfaatkan sebab-sebab yang halal, dan memohon pertolongan kepada Allah. Namun, setelah hasilnya nyata, ia tidak diperbolehkan menentang takdir dengan penyesalan yang sia-sia. Ia menerima keputusan Allah dengan hati yang lapang, karena ia yakin bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihan dirinya sendiri.
Inilah buah yang agung dari iman kepada takdir. Hati menjadi tenang, jiwa terbebas dari belenggu penyesalan, dan tawakal kepada Allah semakin kuat. Seorang mukmin tetap berusaha sebaik-baiknya, tetapi ia tidak menggantungkan kebahagiannya kepada hasil usahanya. Ia menggantungkannya kepada Rabb yang mengatur seluruh urusannya dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang.
Maka boleh jadi hari ini engkau belum memahami mengapa Allah memilihkan jalan yang begitu berat bagimu. Boleh jadi engkau belum melihat hikmah di balik kehilangan, kegagalan, sakit, atau doa yang belum juga terwujud. Namun, keterbatasanmu dalam memahami hikmah bukan berarti ketetapan Allah tidak mengandung kebaikan. Allah mengetahui, sedangkan engkau tidak mengetahui. Dia melihat akhir dari suatu perkara, sedangkan engkau hanya melihat bagian kecil yang sedang engkau jalani.
Maka, ketika musibah datang, jagalah sesuatu yang paling berharga dalam dirimu: agamamu. Jangan sampai kehilangan sesuatu dari dunia membuatmu kehilangan kedekatan dengan Allah. Jangan sampai satu musibah melahirkan musibah yang lebih besar, yaitu rusaknya iman, hilangnya kesabaran, dan jauhnya hati dari Rabb semesta alam. Selama musibah itu tidak merenggut agamamu, masih ada nikmat besar yang patut engkau syukuri. Dan selama engkau menghadapinya dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah, tidak ada satu pun air mata, rasa sakit, ataupun kesedihanmu yang akan sia-sia di sisi-Nya.
Barangkali melalui sesuatu yang engkau tangisi hari ini, Allah sedang menghapus dosa-dosamu. Barangkali melalui kehilangan yang begitu menyakitkan, Dia sedang mengangkat derajatmu. Dan barangkali melalui jalan yang tidak pernah engkau pilih, Allah sedang membawamu menuju kedudukan di surga yang tidak akan mampu engkau capai hanya dengan amalmu.
Maka serahkanlah apa yang tidak mampu engkau kendalikan kepada Dia yang mengendalikan segala sesuatu. Bersabarlah ketika takdir terasa berat, berharaplah pahala ketika musibah datang, dan tetaplah berbaik sangka kepada Allah meskipun engkau belum memahami rahasia ketetapan-Nya. Kelak, ketika segala hikmah disingkap dan setiap kesabaran dibalas dengan sempurna, engkau akan mengetahui bahwa tidak satu pun ketetapan Allah berlangsung sia-sia.
Daftar Pustaka
As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.
Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah. Kitab Akidah dan Pembahasan Takdir
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Syifa’ al-‘Alil fi Masa’il al-Qadha’ wa al-Qadar wa al-Hikmah wa at-Ta‘lil. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah.
Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah. Riyadh: Dar Ibn al-Jauzi. Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Syarh Lum‘at al-I‘tiqad. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd. Alu Syaikh, Shalih bin Abdul Aziz. Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah
Ditulis oleh: Ustadzah Mardhatillah Hafidzahallah
