“Percayakan Saja pada Semesta” Apa yang Salah dengan Ucapan ini?

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

“Percayakan Saja pada Semesta” Apa yang Salah dengan Ucapan ini?

An article for Madrasah Mar’ah Shalihah by Ishmahsarah Nur Alim

A. Ketika Alam Semesta Ditempatkan Tidak Semestinya

Kita mungkin pernah melihat konten populer di sosial media yang menggunakan kata ‘semesta’ untuk merujuk pada sesuatu yang dapat mengatur kejadian di dunia ini, seperti kalimat ‘semesta mendukung’ atau ‘semesta mempertemukan kita’. Sebagian orang menggunakan kata semesta dengan pemahaman bahwa alam semesta itu adalah sama dengan Tuhan atau bagian dari Tuhan. Kata semesta dan alam semesta memang terdengar puitis bahkan romantis, namun ada konsekuensi aqidah yang serius di balik penggunaan kata tersebut pada konteks ketuhanan.

Selain pada penggunaan bahasa, manusia juga terkadang terjebak pada pengagungan pada alam semesta. Rasa takjub akan keindahan dan kemegahan alam semesta merupakan hal yang lumrah untuk kita rasakan, hal ini dapat mengantarkan kita pada tafakkur alam yang menambah keimanan dan kesyukuran kita kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Namun rasa takjub yang berlebihan tanpa landasan syari’at dapat mengantarkan manusia untuk mengagungkan bahkan menyembah alam semesta. Wal-iyadzu billah.

B. Kesesatan Pengangungan Alam Semesta

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

(QS. Al-Fatihah: 2)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di رحمه الله (2014) menjelaskan:

“Rabb adalah Sang Pemelihara sekalian alam, dan alam itu adalah siapa saja yang selain dari Allah yang Allah ciptakan dan menyiapkan bagi mereka sarana-sarana, memberikan kepada mereka nikmat yang besar, yang mana bila mereka kehilangan kenikmatan itu niscaya mereka tidak akan bertahan hidup, dan apa pun kenikmatan yang ada pada mereka, maka itu semua adalah dari-Nya.”

Pada ayat ini, Allah telah menjelaskan perbedaan yang kontras antara Allah sebagai Al-Khaliq (pencipta) dan Rabb (pemelihara) dari alam semesta yang merupakan makhluk ciptaan yang berada dalam pemeliharaan Allah. Allah dan alam semesta bukanlah satu kesatuan, kepercayaan yang menganggap Allah dan alam semesta sebagai hal yang sama atau satu adalah kesyirikan.

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”

(QS. Az-Zumar: 62)

Anggapan bahwa alam semesta dapat melakukan perbuatan yang eksklusif hanya dapat dilakukan oleh Allah seperti menciptakan, mengatur, dan memelihara segala hal yang di dunia ini adalah kesyirikan yang nyata. Kesyirikan ini merupakan syirik dalam Rububiyyah Allah dan merupakan syirik yang sangat fundamental.

Kepercayaan sesat yang mengimani tentang kesamaan atau kesatuan Tuhan dan alam semesta adalah kepercayaan panteisme. Menurut KBBI, definisi panteisme adalah:

  1. Ajaran yang menyamakan Tuhan dengan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam semesta
  2. Penyembahan (pemujaan) kepada semua dewa dari berbagai kepercayaan

Kepercayaan panteisme dipopulerkan oleh Baruch Spinoza, seorang filsuf abad ke-17 asal Belanda keturunan Yahudi-Portugis, melalui karya terkenalnya berjudul Ethics. Tapi sebenarnya unsur panteistik sudah ada berabad-abad sebelum ide dari Spinoza muncul, banyak agama kuno masyarakat di berbagai penjuru dunia mulai dari Afrika, Amerika, hingga Asia yang memiliki unsur panteistik. Agama dan kepercayaan besar dari Timur seperti Hindu dan Taoisme juga memiliki unsur panteistik.

Fitnah panteisme tidak hanya mempengaruhi penganut agama lain, kesesatan ini juga menyusup pada kaum Muslimin melalui ajaran kebatinan (mistisisme) dan sufisme.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله  (2019) menjelaskan:

“Pada asal akidah, ilmu, dan iman mereka, tidak terdapat pengakuan bahwa Allah terpisah dari makhluk-makhluk-Nya dan berbeda dari mereka. Maka mereka pun terjatuh ke dalam suatu bentuk penyekutuan dan pencampuradukan antara Sang Pencipta dengan makhluk, serta antara apa yang diperintahkan dengan apa yang dilarang. Dari sinilah tersesat orang-orang yang tersesat dari kalangan penganut ittihād (doktrin penyatuan), seperti Ibnu ’Arabi dan orang-orang semisalnya.”

Di zaman modern, kepercayaan panteisme menjadi populer kembali salah satunya karena pengaruh gerakan New Age dan neo-paganisme. Menurut pandangan New Age, dunia dan alam semesta dipahami melalui perspektif monisme dan panteisme, yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari satu esensi yang sama, yaitu Tuhan (Kreitz, t.t.). Pemahaman tentang alam yang holistik yaitu alam semesta yang terhubung dan terikat satu sama lain juga kerap kali menjadi dasar kepercayaan tentang bersatunya Tuhan dengan alam semesta hingga kepercayaan bahwa Tuhan dan manusia adalah satu kesatuan dalam aliran New Age.

C. Tauhid Sebagai Benteng dari Panteisme

Sebagai seorang Muslim, kita meyakini bahwa setan akan terus menggoda manusia dengan berbagai cara. Kesyirikan menyusup ke dalam hati, pemikiran, dan amalan manusia bukan hanya melalui penyembahan terhadap patung berhala, tetapi banyak metode lainnya dan pengagungan berlebihan terhadap alam semesta adalah salah satu dari cara halus setan untuk menjauhkan manusia dari tauhid yang murni.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله  (2008) menjelaskan:

“Allah menghendaki agar engkau menjadi hamba-Nya dalam seluruh dimensi penghambaan, sebagaimana Dia adalah Tuhanmu dalam seluruh kesempurnaan makna ketuhanan (Rububiyyah). Dia menghendaki agar engkau menjadi hamba yang merendahkan diri di hadapan-Nya, tunduk sepenuhnya kepada-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi seluruh larangan-Nya, serta membenarkan setiap berita yang disampaikan-Nya. Hal itu karena engkau menyaksikan bahwa nikmat-nikmat-Nya senantiasa tercurah kepadamu secara melimpah dan berkesinambungan. Maka, tidakkah engkau merasa malu apabila nikmat-nikmat tersebut justru engkau balas dengan kekufuran dan pengingkaran?”

Allah menciptakan alam semesta sebagai nikmat untuk manusia. Sinar matahari pagi yang hangat serta kaya manfaat, bintang-bintang yang menjadi petunjuk arah di malam hari, beragam tumbuhan dan hewan yang menyokong kehidupan manusia di bumi, semuanya Allah ciptakan dengan hikmah untuk kebaikan manusia. Maka betapa besar kekufuran manusia yang menyamakan alam semesta dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah kekufuran dan kesyirikan.

Penggunaan kata alam semesta sebagai pengganti kata Allah atau Tuhan adalah kesesatan yang nyata. Hal itu merupakan kesyirikan yang wajib untuk diingkari dan dihindari oleh setiap umat Muslim. Hendaknya kita lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata yang kita tulis dan ucapkan. Kita juga perlu lebih waspada dalam menerima informasi dari berbagai media karena fitnah syirik modern seperti paganisme, panteisme, dan anisime sering hadir melalui konten-konten beraliran New Age yang sekilas terlihat aman dan damai karena menggunakan narasi kesehatan, self-healing, psikologi, maupun cinta alam, tapi sejatinya ia membawa kesyirikan kuno yang dibungkus dengan wajah dan metode yang lebih menarik dan kekinian.

Referensi

Al-Utsaimin, M. b. (2008). Huquq Da’at ilayha Al-Fithrah wa Qarraratha Asy-Syari’ah. Maktabah At-Taw’iyyah Al-Islamiyyah li At-Tahqiq wa An-Nasyr wa Al-Bahts Al-‘Ilmiy.

Arti kata panteisme. (t.thn.). Diambil kembali dari Kamus Besar Bahasa Indonesia: https://kbbi.web.id/panteisme

As-Sa’di, A. b. (2014). Tafsir Al-Qur’an (1): Surat Al-Fatihah, Al-Baqarah, & Ali Imran. Jakarta: Darul Haq.

Kreitz, C. (t.thn.). What the Cults Believe. Diambil kembali dari https://www.cs.uni-potsdam.de/ti/kreitz/Christian/Cults/all.pdf

Tafsir Surat Al-Fatihah. (t.thn.). Diambil kembali dari tafsirweb: https://tafsirweb.com/46-surat-al-fatihah-ayat-2.html

Tafsir Surat Az-Zumar. (t.thn.). Diambil kembali dari tafsirweb: https://tafsirweb.com/8724-surat-az-zumar-ayat-62.html

Taymiyyah, I. (2019). Jami’u Al-Masa-il Ibnu Taymiyyah. Beirut: Dar Ibn Hazm.

 

 

berbagi ilmu

Silahkan bagikan ilmu ini pada yang lain!

Tinggalkan Komentar

WordPress Crafted with ♥ by faizONE.ID